top of page

                                                                                   Festival Komposisi Musik, “Sebuah Catatan Pribadi”.

 

               365 hari dalam setahun merupakan salah satu bentuk perhitungan waktu yang sekaligus menjadi penanda jejak perjalanan setiap insan di muka bumi ini. Dalam kurun waktu tersebut, terdapat banyak sekali kegiatan yang manusia lakukan, mulai dari bertani, beternak, bekerja, hingga berkesenian.  Di dalam waktu satu tahun itu juga dapat kita temui banyak sekali acara kesenian mulai dari tingkat kolektif antar mahasiswa, desa sampai tingkat plat merah (baca: yang disponsori oleh pemerintahan). Selain lokasi dan pelaku yang beragam, bentuk-bentuk kesenian yang diadakan pun juga sangat beragam, mulai dari pertunjukan wayang kulit, pameran lukisan, menari selama 24 jam, karnaval, konser musik masa kini dan lain sebagainya.

               Selain bentuknya yang beragam, terdapat pula keberagam diantara pelaku-pelaku yang menjalankan kesenian tersebut. Pelaku-pelaku tersebut biasanya berkumpul menjadi satu didalam sebuah komunitas kesenian, dan komunitas-komunitas tersebutlah yang berdiri sebagai fondasi yang menyokong acara-acara kesenian yang mereka jalankan agar terus berjalan sesuai dengan target masing-masing. Komunitas-komunitas kesenian ini juga bukan hanya sekedar menjadi penyokong yang melaksanakan hal-hal yang bersifat teknis perpanggungan, namun komunitas ini  juga merupakan sekelompok aktivis seni yang mengelola, mengembangkan, meneguhkan karakter dan ideologinya ke dalam acara-acara kesenian yang mereka laksanakan setiap tahunnya.

               Dalam hal ini, penulis juga pernah dan masih sering terlibat dalam beberapa acara kesenian, khususnya di ranah musik. Banyak sekali sekali acara musik yang dapat kita temui dalam setahun, mulai dari konser kecil yang bersifat untuk memenuhi persyaratan tugas kuliah sampai festival musik yang cukup besar yang diadakan secara rutin setiap satu tahun sekali. Selain berbentuk konser, festival-festival ini juga tidak jarang menambahkan sesi diskusi, lokakarya, maupun symposium diantara jadwal-jadwal yang telah mereka sediakan. Di dalam tulisan ini, penulis akan lebih banyak membahas tentang festival-festival komposisi yang pernah penulis hadiri dalam kurun waktu 6 tahun sejak tahun 2013. Walaupun tulisan ini akan membahas tentang festival komposisi musik, bukan berarti tulisan ini tidak akan menyinggung wilayah-wilayah lain yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan komposisi musik.

 

PERTEMUAN BERBAGAI ARUS PEMIKIRAN DAN BAHASA MUSIK.

            Festival komposisi musik dalam praktiknya bukan hanya berbentuk sebua konser yang memainkan banyak karya dari komponis-komponis yang terlibat, dan bukan juga hanya sekedar sebuah tempat untuk berkumpul dan berpesta, lebih dari itu, terdapat banyak sekali pertemuan gagasan, bahasa musik, pertukaran ide, bahkan hingga terbentuknya sebuah “gaya” kekaryaan yang mewakili aliran (baca: gaya musik) tertentu, hingga jalinan “mafia” musik antar festival!. Kita bisa lihat fenomena tersebut pada beberapa festival, sebut saja Damstard International Summer Course for New Music Darmstadt, Bang on a Can Festival, Pekan Komponis Indonesia dan lain sebagainya. Beberapa gambaran di atas pernah penulis alami secara langsung beberapa tahun terakhir ini, yang terkadang menyebabkan penulis bertanya-tanya, sebetulnya apa tujuan lebih lanjut dari sebuah festival komposisi musik selain dari menjadi sebuah tonggak kemajuan perkembangan bahasa musik, gagasan, maupun  menjadi wadah terjalinnya hubungan antara komponis, pemain, kritikus yang terlahir di dalamnya? Apakah semua festival komposisi musik benar-benar mempunyai visi dan misi yang positif seperti yang penulis jabarkan di atas? Atau di dalam beberapa kasus, festival komposisi musik hanya dijadikan ajang eksistensi dan tangga untuk meraih kepentingan-kepentingan individu tertentu?.

            Selama 6 tahun ini penulis banyak mengikuti beberpa festival komposisi musik baik di dalam maupun di luar negeri, dan semua festival yang penulis ikuti benar-benar berbeda satu dengan yang lainnya, dan keberagaman ini menjadi poin penting yang harus tetap dijaga. Pada tahun 2013, penulis mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah festival sekaligus kompetisi komposisi yang diadakan oleh Goethe Institute bekerjasama dengan Mahidol University, dan acara ini diselenggarakan di Thailand selama kurang lebih satu minggu. Di dalam festival ini, terlihat sekali bahwa panitia dan juga para juri/kurator karya ingin mengekspos keberagaman bahasa musik yang ada di wilayah Asia Tenggara dengan mengizinkan para komponis muda yang terlibat memakai instrumen-instumen tradisional dan juga bahasa musik dari masing-masing negara untuk dikombinasikan dengan “western” instrumen di dalam karya mereka. Semua karya baik dari komponis muda dan juri/kurator karya dimainkan oleh Ensemble Mosaik dari Berlin yang dipimpin oleh seorang dirigen sekaligus komponis ternama yaitu Enno Pope. Terdapat banyak karya yang menarik di dalam festival ini, dan hampir semua karya melibatkan bahasa musik maupun warna bunyi dari negara masing-masing. Namun penulis tidak bisa menemukan gaya musik minimalis di sini, entah kenapa, apakah ini hanya sebuah kebetulan atau memang sudah menjadi bagian dari kurasi karya?.

            Pada tahun 2015 penulis mendapat kesempatan untuk menghadiri dan terlibat sebagai peserta di acara 21th Young Composers Meeting yang diadakan di Apeldoorn, Belanda. Acara ini sudah berlangsung selama 21 tahun dan mengeluarkan banyak alumni, satu diantara mereka dalam Ken Ueno. Berbeda dengan acara yang diadakan oleh Goethe Institute di Thailand pada tahun 2013, acara ini mengakomodir gaya musik yang lebih beragam, dan penulis dapat menemukan gaya minimalis music di dalam acara ini. Seperti pada umumnya, festival komposisi ini terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu konser dan diskusi. Diskusi diadakan setiap malam hari dan diskusi ini menghadirkan empat kurator karya yaitu Martijn Padding, Cathy Van Eck, Errolyn Wallen, dan Richard Ayres , setiap sesi diskusi masing-masing kurator mempresentasikanm musik dan konsep dibalik kekaryaan mereka. Salah satunya adalah Cathy Van Eck yang banyak mempresentasikan konsep kekaryaannya yang banyak memnggunakan new media serta melibatkan “performance art” seperti di karyanya yang berjudul “Wings, a performance for acoustice feedback” dan juga “Groene Ruis, for a Sounding Tree”. Selain empat kurator tadi, terdapat juga komponis senior yang diundang, ia adalah  Louis Andriessen seorang komponis raksasa asal Belanda. Pada kesempatan ini pula Louis Andriessen membahas karya dan konsep dibalik kekaryaannya, selain Louis Andriessen, tedapat pula Gerda van Zelm yang membahas tentang teknik vokal dan kemungkinan-kemungkinan lain di dalam olah vokal yang dapat dijadikan materi kekaryaan.

            Pada sesi konser dan persiapan konser, Orkest de Ereprijs yang dipimpin oleh Wim Boerman sebagai direktur artistiknya didaulat menjadi satu-satunya ensemeble yang memainkan keseluruhan karya pada acara ini, selama proses latihan, para komponis muda juga didampingi oleh para kurator yang terkadang memberikan masukan dan menjadi wasit di setiap sesi latihan karena terkadang terjadi momen perselisihan antara komponis dan dirigen bahkan dengan musisi dibeberapa sesi latihan. Sesi latihan ini dibagi menjadi beberapa waktu, yaitu pagi, siang dan sore, dan ketika komponis muda tidak sedang mendapatkan sesi latihan, mereka bisa membuat janji dengan kurator untuk mendapatkan sesi private lecture dengan masing-masing kurator. Disamping itu, sembari menunggu giliran sesi latihan dan private lecture, komponis muda selalu pergi ke bar di dekat gedung latihan untuk bercengkrama, bertukar pikiran diselingi minum kopi, teh, bir, wine atau hanya duduk di meja dan mengerjakan komposisi baru untuk proyek selanjutnya. Setelah semua sesi latihan dan diskusi berakhir, tiba saatnya konser utama yang sudah ditunggu-tunggu oleh semua orang yang terlibat dari musisi, kru panggung, kurator dan pastinya komponis-komponis pemilik karya-karya yang akan dimainkan. Sungguh menarik sekali momen-momen pertemuan komponis muda seperti ini selain terdapat nilai edukatif, semua komponis yang terlibat juga dapat membentuk jaringan antar komponis di masa depan.

           Pada tahun yang sama penulis juga mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dari sebuah festival di Shanghai, festival ini dinamakan Shanghai New Music Week yang diadakan oleh Shanghai Conservatory dan direktur artistik dari acara ini adalah seorang komponis bernama WEN Deqing. Dan pada saat penulis terlibat, acara ini sudah terjadi untuk yang kedelapan kalinya. Acara ini mengingatkan saya pada Festival musik Woodstock, kenapa? Karena festival ini benar-benar besar dan ambisius untuk sebuah festival musik “kontemporer”. Mereka benar-benar besar dalam segala hal, mulai dari komponis dan musisi yang diundang, susunan acara hingga fasilitas yang diberikan untuk setiap orang yang terlibat di acara ini.

          Pada perhelatan yang kedelapan ini pihak SHCNMW mengundang dua raksasa di dunia komposisi musik, yang pertama adalah Beat Furrer seorang komponis asal Austria yang juga sebagai pendiri dari Ensemble KlangForum Wien, Yang kedua adalah Chen Yi, seorang komponis yang berasal dari China. Selain dua komponis utama tersebut, panitia juga mengundang beberapa komponis yang juga berpengaruh di wilayah asia, dan rata-rata mereka juga merupakan direktur artistik dari festival yang mereka buat. Bukan hanya komponis yang mereka undang pada waktu itu, namun mereka juga mengundang sebuah Ensemble raksasa di wilayah musik masa kini, ensemble ini adalah sebuah ensemble yang dibentuk oleh komponis besar prancis Pierre Boulez, dan ensemble ini diberi nama ensemble InterContemporain. Selain InterContemporain, mereka juga mengundang ensemble-ensemble lain seperti Ensemble Offspring,  dan juga pastinya mereka melibatkan pemain-pemain musik lokal seperti Shanghai Symphony Orchestra.

          Acara ini dibagi menjadi beberapa bagian dan diadakan kurang lebih selama kurang lebih 5 hari, mulai dari pertemuan antara para direktur artistik yang diundang hingga portrait concert dari dua komponis utama. Pada acara pertemuan direktur artistik, mereka masing-masing mempresentasikan acara-acara yang mereka kelola dan kembangkan, 2 diantara mereka adalah Koji Nakano yang mempresentasikan acara yang ia keloala dan kembangkan, acara ini dinamakan Burapha Music and Performing Arts Festival. Selain Koji Nakano, ada juga direktur artistik dari China ASEAN Music Week yang mempresentasikan tentang kegiatan yang diadakan didalam acara yang ia kelola, acara ini banyak melibatkan komponis maupun musisi dari China dan wilayah ASEAN sesuai dengan namanya China ASEAN Music Week. Selain pertemuan dan konser dari direktur-direktur artistik yang diundang, terdapat pula sesi masterclass untuk komponis muda yang dipimpin oleh Beat Furrer dan Chen Yi, terdapat 5 komponis muda termasuk penulis sendiri yang mendapat kesempatan untuk menghadiri masterclass ini. Di lain hari terdapat pula forum musikologi yang juga masih bagian dari acara ini, sayang sekali penulis tidak dapat meghadiri forum musikologi tersebut dikarenakan jadwal acara yang berbenturan dengan sesi latihan. Di hari lain juga terdapat sesi ceramah dari dua komponis residensi yaitu Chen Yi yang membahas pengaruh tradisi di dalam karya-karyanya, di lain pihak terdapat Beat Furrer yang membahas karya operanya yang berjudul FAMA, lagi-lagi penulis tidak dapat mengadiri sesi tersebut dikarenakan berbenturan dengan jadwal latihan. Cerama, diskusi dan lokakarya bukan hanya dipimpin oleh komponis saja, namun juga ensemble seperti InterContempoarain mendapat bagian untuk mempresentasikan tentang teknik-teknik permainan baru yang biasa dipakai di dalam karya musik masa kini kepada mahasiswa/i dari Shanghai Conservatory, lokakarya instrumen ini juga terbuka untuk umum. Dan pada tahun 2017 ini mereka mengundang Liza Lim, Yann Robin dan Narong Prangcharoen.  Sungguh acara yang besar dan ambisius, semoga satu saat nanti penulis dapat mengelola dan mengembangkan acara seperti ini.

            Pada tahun 2016, penulis diundang mendapat kesempatan untuk terlibat mementaskan karya di acara ulang tahun Asia Culture Centre di Gwangju, Korea Selatan, dan acara ini ini juga bekerja sama dengan International Society for Contemporary Music regional Korea. Seperti biasanya, jika festival yang diadakan masih di wilayah Asia, maka topik mengenai ke-Asia-an akan menjadi ulasan utama yang dibahas dan tema besar acara ini adala Symphony for Asia, mulai dari perkembangan musik di wilayah Asia, sampai pada pengaruh ke-Asia-an pada karya-karya komponis yang terlibat di dalam acara ini. Acara ini berlangsung selama 4 hari, dan di setiap hari terdapat beberapa sesi konser dan diskusi seperti diskusi mengenai “orkestrasi” instrumen tradisi China dari Little Giant Chinesse Chamber Orchestra, dan juga terdapat lecture dari dua komponis residensi yaitu Pan Hwang-Long yang membahas pengaruh tradisi di dalan karya-karyanya dan Michale Daugherty yang membahas konsep karya-karyanya juga, terdapat satu momen menarik selama sesi diskusi dengan Michale, yaitu ketika salah satu peserta bertanya (kenapa karyamu tidak terdengar berbau Ligeti? Sedangkan anda belajar dengan Ligeti? Dan Michale Daugherty menjawab, karena Ligeti membebaskan murid-muridnya untuk menjadi diri mereka sendiri, tidak seperti “chinesse composer yang mendikte murid-muridnya”), apakah pernyataan itu benar? Penulis belum berani berargumen tentang hal itu.

             Selain agenda diskusi, terdapat beberapa konser dari karya-karya komponis yang terlibat di dalam acara ini seperti Michael Daugherty, Gerhard Stäbler, Zhang Zhiiang, Seungjae Jung, Youngran Park, Christian Mason, Param Vir, Eiko Tsukamoto, Ilryun Chung, Allain Gaussin, Ulrich Kreppeine, Günter Steinke, Jungyang Park, Seungwoo Baek, Chih-Chun lee, Shing Chun-hay, Hwang-Long Pan, Chao Ching-Wen, Tzyy sheng Lee, Clarence Mak, Lidia Zielinska, Anna Terzaroli, Chung Shih, Kim Hye-Lim, Lim hyeong seok, Sin seong a, Moon Sung Joon, Kim Hyeon-jung, Chae Hee Jin, Seungju Noh, Septian Dwi Cahyo, Andys Skordis , Tak Cheng Hui, Vitaliy kyianysia. Dan dimainkan oleh beberapa ensemble yang diundang oleh panitia seperti Classikan Ensemble, Little Giant Chinese Chamber Orchestra, Japan Modern Ensemble, Seoul Modern Ensemble, Gwangju Symphony Orchestra, Hong Kong New Music Ensemble.

            Pada tahun 2017 ini penulis medapat kesempatan untuk terlibat dalam acara ASEAN Creation, bagian dari acara ASEAN Youth Ensemble yang diadakan atas kerjasama dari Princess Galyani Vadhana Institute of Music dengan Ministry of Culture of Thailand. Seperti biasanya, topik yang diangkat pada festival ini adalah keberagaman bahasa musik di wilayah ASEAN, berbeda dengan acara yang diadakan oleh Goethe Institute bekerja sama dengan Mahidol University  pada tahun 2013, kali ini semua musisi berasal dari wilayah ASEAN yang disatukan dalam satu wadah yang bernama ASEAN Youth Ensemble, dan semua musisi tersebut telah melewati tahap seleksi yang diadakan oleh tim kurasi. Tim kurasi untuk acara ASEAN Youth Ensemble dan juga komponis untuk sesi ASEAN Creation adalah Anant Narkkong, Dieter Mack, Anothai Nitibhon, Peter Veale. Di dalam acara ini juga panitia mengundang musisi dari luar wilayah ASEAN yang di sponsori oleh Goethe Institute, mereka adala Studio Musik Fabrik yang terdiri dari beberapa musisi muda berbakat dibawah bimbingan Ensemble Musik Fabrik yang berbasis di Jerman.

            Pada acara ini terdapat pula sebuah symposium yang berjalan selama beberapa hari dibawah tema Music, Myths & Realities. Terdapat banyak pembicara dan topik yang dibahas dalam symposium ini, salah satu pembicara dalam symposium ini adalah Prof. Nigel Osborne, MBE yang membahas beberapa hal diantaranya adalah “World mythology, including the Phaya Naga, Arion’s dolphins and the idea of music as immersion and transformation.” Di sela-sela pergantian antara jadwal symposium dan jadwal latihan rutin dari karya-karya komponis yang terpilih untuk sesi ASEAN Creation, terdapat juga beberapa konser lain yang memainkan karya-karya dari David Lang, Toru Takemitsu, Igor Stravinsky, Jiradej Setabundhu,Dieter Mack, Morton Feldman, Liza Lim, Gerard Grisey, Bela Bartok, Collin McPhee dan lain sebagainya yang dimainkan oleh Studio Musik Fabrik dan juga mahasiswa/i dari Princess Galyani Vadhana Institute of Music. Disamping konser, terdapat pula sesi lokakarya dari beberapa member Studio Musik Fabrik dan juga sesi improvisasi para musisi dan komponis yang akhirnya akan dipentaskan pada konser kedua.

Setelah beberapa hari diisi dengan sesi latihan, acara ini diakhiri dengan sesi konser dari karya-karya komponis muda dari wilayah ASEAN yang diberi tajuk ASEAN Creation. Karya-karya yang dipentaskan pada konser ini sangatlah beragam dengan ciri khas masing-masing individu dan juga pengaruh dari bahasa musik dari masing-masing latarbelakang komponis serta bunyi dari masing-masing instrumen yang dipilih, komponis dapat memilih dan memadukan instrumen dari kedua belah pihak antara “western” instrumen yang diwakili oleh Studio Musik Fabrik dan intrumen-instrumen dari wilayah ASEAN yang diwakili oleh ASEAN Youth Ensemble.

 

GELIAT ARUS LOKAL DAN PENTINGNYA FESTIVAL SEBAGAI REKAM JEJAK KEKARYAAN.

            Pada bagian sebelumnya, penulis lebih banyak menulis tentang pengalaman penulis berada diantara festival-festival yang diadakan di luar Indonesia, dan pada bagian ini penulis akan lebih berfokus pada geliat festival-festival komposisi di wilayah Indonesia yang pernah penulis hadiri maupun yang pernah melibatkan penulis sebagai panitia maupun komponis yang terlibat menyumbangkan karya.

            72 tahun sudah Indonesia merdeka, dan selama rentang usia itu pula waktu telah menjadi saksi lahirnya beberapa festival-festival komposisi di Indonesia. Sebut saja Pekan Komponis Indonesia, Yogyakarta Contemporary Music Festival, Bukan Musik Biasa, October Meeting dan lain sebagainya. Pada tahun 2012 penulis mendapat kesempatan menjadi salah satu saksi dari sebuah perhelatan komposisi paling bersejarah di Indonesia, yaitu Pekan Komponis Indonesia. Pekan Komponis Indonesia merupakan festival komposisi tertua sekaligus yang paling berpengaruh dikalangan komponis Indonesia kususnya di era 70an sampai akir 90an, Festival ini diprakarsai oleh seseorang yang bernama Suka Hardjana, seperti ia ceritakan di setiap pertemuan yang menghadirkan Suka Hardjana sebagai pembicara bahwa pada awalnya ia sangat penasaran dengan potensi-potensi komponis lokal pada waktu itu, dan ia menyempatkan diri untuk menyambangi beberapa daerah untuk mencari potensi-potensi yang terpendam, dan pada akhirnya ia membentuk festival ini yang mana sudah banyak sekali melahirkan komponis besar Indonesia yang pada waktu itu masih muda dan belum menjadi “siapa-siapa” seperti yang penulis sering temui dibeberapa festival yang penulis ikuti, mereka masih muda dengan segala potensinya, dan penulis yakin bahwa suatu saat mereka akan menjadi raksasa.

             Seperti halnya John Cage, Pierre Boulez, Ianis Xenakis, Kaija Sariaho, Karlheinz Stockhousendan lain sebagainya yang bukanlah “siapa-siapa” di masa muda mereka. Namun berkat wadah seperti sebuah “festival”, potensi mereka mulai terekspos dan mendapat tempat. Begitu pula dengan komponis-komponis muda di Indonesia, dengan kehadiran Pekan Komponis Muda ini, komponis-komponis muda mulai mendapatkan wadah untuk berkreasi dan juga bertukar pikiran yang dapat memperluas cakrawala kekaryaan mereka. Kini Pekan Komponis Indonesia sudah agak terseok-seok berjalan dengan ditandai absennya beberapa kegiatan yang biasanya diadakan setiap setahun sekali.

            Selain Pekan Komponis Indonesia, terdapat pula festival-festival lain seperti Yogyakarta Contemporary Music Festival dan October Meeting dan kedua acara ini berada di kota Yogyakarta, Yogyakarta Contemporary Music Festival merupakan festival yang menjadi salah satu barometer komposisi musik di Indonesia di Era 2000an setelah Pekan Komponis Indonesia. Selain YCMF terdapat pula October Meeting dengan sistem kurasi yang lebih terbuka dan beragam di wilayah gaya musik, saat ini OM telah memasuki tahun kedua dan tetap berjuang mengelola dan mengembangkan potensi-potensi di wilayah komposisi dan musisi. Disamping warna kedua festival ini yang mempunyai cirinya tersendiri dan lagi-lagi pastinya ditentukan oleh sistem kurasi dan cita-cita masing-masing aktivisnya, kedua festival ini akan semakin mewarnai geliat komposisi musik di Indonesia dan menjadi salah satu rekam jejak kerayaan komponis-komponis di Indonesia.

           Selain kedua acara tadi juga terdapat sebuah forum diskusi tiap 2 bulanan yang dikemas luwes namun tetap tidak meninggalkan esensi dari setiap topik. Acara tersebut adalah Bukan Musik Biasa yang berada di kota Solo, acara tersebut biasa mengundang beberapa musisi maupun komponis baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri dan dalam negeri yang mempresentasikan dan mendiskusikan tentang musik yang mereka bawakan di setiap pagelaran BMB. Disamping empat acara komposisi musik yang penulis sebutkan diatas, terdapat banyak juga acara-acara komposisi di wilayah mahasiswa yang seringkali terjadi atas semangat kolektif, sebut saja acara seperti konser 6,5 composers collective, maupun konser-konser komposisi yang diadakan oleh mahasiswa/i dari Universitas Pelita Harapan dan juga penulis yakin masi terdapat banyak acara yang penulis lewatkan di dalam tulisan ini yang juga akan menjadi sumbu-sumbu api kekaryaan komposisi musik di wilayah-wilayah lain di Indonesia.

            Dilihat dari gejala-gejala yang terjadi seperti yang penulis telah jabarkan diatas, komposisi musik dalam praktiknya bukan hanya sebuah acara yang digelar untuk sebagai media eksistensi maupun narsisme antar pelakunya, namun dibalik itu terdapat benyak hal yang terjadi disetiap momennya seperti terjadi sebuah pertukaran ide, penanaman ideologi, maupun rekam jejak kekaryaan dari setiap komponis yang terlibat. Dan dilihat dari gejala-gejala tersebut juga dapat disimpulkan bahwa mengelola, menjalankan bahkan mengembangkan sebuah festival komposisi tidak semudah membalikkan telapak tangan, kenapa? Karena jika kita tidak bersungguh-sungguh mengelola dan mengembangkannya maka yang terjadi hanyalah sebuah disorientasi dan pesta tanpa arah dan tujuan. Karena pada hakikatnya sebuah wadah yang bernama festival komposisi musik ini merupakan salah satu upaya kerja kultural dalam membagun sebuah peradaban.

SEPTIAN DWI CAHYO

CITAYAM, 17 September 2017

bottom of page