PENTAS NEW MUSIC IN GAMELAN

 

 

 

        Pada tanggal 22 November 2018, Arham Aryadi bersama ansambel bentukannya yang ia beri nama Indonesian Contemporary Gamelan Ensemble telah melakukan pentas pertamanya di ruang terbuka pelataran Vihara Avalokitesvara, Pamekasan, Madura atas bantuan hibah Kelola. Pentas perdana ini tercatat dihadiri oleh 27 penonton dari Madura dan luar Madura dan berlangsung sekitar 2 jam. Terdapat 6 karya yang Arham dan ICGE bawakan dan dibuat dalam rentang tahun 2010-2018, karya-karya tersebut adalah Hutan dan Hujan untuk gamelan pilihan, Gong untuk gong tunggal, Kesurupan untuk Gender dan Pemrosesan Langsung, Spectrum untuk gamelan pilihan, Retrieve untuk gamelan pilihan dan Perangko Madura untuk 2 Bonang dan Pemrosesan Langsung.

     Keenam karya yang mengekplorasi gamelan dengan berbagai cara seperti memanfaatkan tumbukan beat frequency interval pada gamelan, pemrosesan secara langsung dengan komputer hingga kombinasi penggunaan mallet untuk mencapai warna bunyi yang diinginkan ini mengingatkan penulis dengan cara komponis-komponis di "Barat" yang juga mengolah "masa lalu" dengan caranya masing-masing. Katakanlah Helmut Lachenmann dengan konsepnya yang ia beri nama "Dialectical Structuralism" dimana ia memanfaatkan "supermarket" tradisi dengan berbagai taksonomi bunyi baru yang ia kembangkan untuk memprovokasi sesuatu yang baru kepada publik hingga sesuatu yang baru itu seakan-akan familiar demgan mereka. Selain Lachenmann, Karheinz Essl juga "berdialog" dengan tradisi, dimana ia menggunakan instrumen harpsichord dan "mengulitinya" dengan melakukan berbagai kemungkinan bunyi baru yang dapat dimunculkan dari harpsichord tersebut yang dikombinasikan dengan pemrosesan langsung pada karya "Sequitur XII”. Namun fenomena di atas tentu saja berbeda dengan bagaimana Arham memanfaatkan “tradisi” sebagai sumber penciptaan dikarenakan titik berangkat dan material yang digunakan sebagai titik berangkat berbeda dengan fenomena di “Barat” yang penulis singgung di atas.

        Yang menarik disamping pentas utama pada malam harinya adalah bagaimana proses pra pementasan dilakukan. jauh sebelum pementasan, Arham terlebih dahulu melakukan observasi tentang gamelan di Madura, khususnya adalah gamelan yang ada di Vihara Avalokitesvara. Berdasarkan hasil observasi dengan mewawancari narasumber dan juga pengrajin gamelan yang bernama Elianto, Arham menemukan bahwa gamelan yang terdapat di pendapha Vihara Avalokitesvara yang juga dimainkan pada pentas karyanya merupakan gamelan yang "bersejarah". Konon usianya sekitar 500 tahun dan terdapat beberapa perbedaan dengan gamelan jawa secara organologi seperti tempat resonansi Slenthem yang berbeda dari Slenthem pada biasanya, juga terdapat sejenis cymbal kecil yang mengingatkan penulis akan ceng-ceng yang biasa digunakan di Bali. Selain itu juga ornamen pada instrumen sangat berbeda seperti terdapat pengaruh motif dari Tiongkok. Sebagai tambahan Ki Elianto juga menuturkan bahwa secara gramatika, gamelan madura mempunyai perbedaan seperti pada permainan bonang dimana polanya berputar, tidak mipil seperti pada gamelan jawa. Disamping observasi kesejerahan, bentuk dan ciri khas mengenai gamelan yang akan digunakannya, kesan dari perjalanan observasi ini juga menginspirasi salah satu karyanya yang berjudul Perangko Madura.

           Hal lain yang patut dicermati dari proses pementasan ini adalah bagaimana Arham berproses dengan ICGE. Ada beberapa hal yang menarik ketika proses latihan, dimana kebaruan bahasa musik yang Arham tawarkan menuntut skill bermain yang juga tidak seperti memainkan gamelan pada biasanya. Dari proses ini, sesungguhnya kita dapat melihat bahwa kebaruan bahasa musik juga menuntut kebaruan teknik permainan pada instrumem musik. Oleh karena itu langkah Arham mementaskan karyanya ini patut diapresiasi dan di sisi lain juga mempunyai sisi riskan jika proses kebaruan bahasa musik ini tidak dapat diimbangi oleh kesiapan pemain. Namun pada proses ini Arham dan ICGE dapat melampaui sisi riskan tersebut dikarenakan pengalamannya dalam memimpin sebuah ansambel sudah tidak diragukan lagi dan juga pastinya keterbukaan pemain akan hal-hal baru sangat berperan dalam perkembangan musik baru karena pemain juga punya andil besar di dalam merealisasikan ide dari komponis. Selamat untuk mas Arham, sukses selalu dalam berkarya.